Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2014

Pintu (Part 1)

Sore itu aku menyadari, aku berlari menjauh dari rumah demi menyatu dengan tanah gersang ini. Aku berusaha mencintainya meski tanpa hadirnya keinginan untuk mencinta. Setiap hari terik menusuk kain baju tebalku, menembus kulit, kemudian ke tulang. Wajah seakan terbakar, jera kupikir untuk kembali, namun aku tetap kembali. Neraka bocor, kata mereka. Pencakar langit terus bermunculan, di mana ada lahan, di situ terpupuk para pekerja berkepala kuning, dan suburlah gedung-gedung yang merasa dirinya adalah pelindung. Aku jarang berkunjung ke ibukota, namun kurasa tempat ini lebih padat. Di rumah, aku jarang mandi sore, dingin. Tidur tanpa kipas, angin sudah seperti orang marah, bahkan selimut pun rindu merangkul setiap malam.
Pekan ini memasuki musim hujan. Rinduku terbayang seperti di rumah. Wangi khas hujan yang tak tergantikan, hujan siang kala tubuh lelah berdendang, jatuhnya kepingan yang bernada. Namun, Tuhan Maha Bercanda. Sedetik gerimis, sehari kuhabiskan waktu menunggu rombongan tetuanya, lalu datang pada sepertiga malam, itupun hanya semenit. Tuhan Maha Bercanda. Manusia-manusia di seberang bahkan sudah mengeluh dengan hujan yang tak henti-henti. Aku? Diam ikhlas menunggu hujan, lalu berbicara pada diri sendiri. Kota ini ditakdirkan untuk gersang dan tidak pernah luput dari terik penuh tusukan. Ya, aku mengerti.
Pagi ini aku bangun dan bergegas menengok keluar, hujankah pagi tadi? Setidaknya debu-debu pagi itu tidak bermunculan menghiasi tapal kuda perangku. Mana terasa hujan semenit? Ya ya ya, tidak hujan... lagi...
Ketika aku menulis ini, entah datang dari mana, dingin menusuk kulit hingga ke tulang, hidungku basah akan peluh, tapi tak ada hujan. Kemudian muncul bayangmu...
“Hai...”, kamu mengintip dari sela-sela pintumu.
Aku tersenyum tipis, lalu mengerutkan keningku. Matamu tidak berhenti menatap, sesekali aku merasa pipimu naik, tanda senyummu sedikit-sedikit merekah. Dari situ kita saling mengenal. Angin sudah seperti orang marah. Sejuk, meski hanya bisa melihat sebelah matamu, dan sedikit sungging senyum bibirmu.
Lama-lama kamu membuka pintu semakin lebar. Tak sadar terik, angin sudah seperti orang marah, rasanya enggan mandi sore, dingin. Sekarang aku bisa melihat kedua matamu dan gigi-gigimu yang berjajar rapi.
“Aku suka itu...”, aku menunjuk malu padamu. Segera kamu membuka pintu sangaaat lebar. Masih dengan mata indah itu dan senyum yang tak ada niatku untuk melupakan. Tak peduli terik, angin sudah seperti orang marah, mandi sore pun enggan, dan ini belum malam, namun selimutku sepertinya rindu merangkul.
“Pintu ini aku buka selebar ini, untukmu...”, aku meyakinimu, tak ada mau untuk sedikitpun meragu. “Tapi jangan masuk dulu...”, kamu menambahkan. Untung aku masih selangkah dari pijakanku. Terik sudah pergi, angin sudah seperi orang marah, mandi sore sudah tidak kupikirkan lagi, selimutku memanggil-manggil namaku izin merangkul. Aku bersabar...
Senyummu masih seperti tadi, namun sedikit demi sedikit memudar. Pandanganmu jadi menginterogasi. Terik memang pergi, angin sudah seperti orang marah, titik-titik air itu akhirnya datang. Aku bertanya, “Boleh aku berteduh?”
Kamu diam seribu ucap.
“Bukankah, pintu terbuka selebar itu untukku?”, aku bertanya lagi.
“Ya”, kamu menjawab singkat. “Aku bilang jangan masuk dulu”, kemudian kamu sungging senyum yang tadi. Aku mengalah.
Terik benar-benar pergi, titik-titik berkembang jadi gerombolan yang lebih kuat. Tanpa aku bicara, kamu sudah bilang, bahwa aku belum waktunya untuk masuk.
Terik benar-benar pergi, titik-titik berkembang jadi gerombolan yang lebih kuat, angin sudah seperti orang marah. Kamu masih memandangiku dan tersenyum. Lama.
“Haruskah aku pergi saja? Ini badai.”, aku bertanya.
Kamu diam.
...
...
...
“Baiklah, aku pergi...”, aku melangkah mundur.
“Pintu ini aku buka selebar ini, untukmu...”, aku meyakinimu, tak ada mau untuk sedikitpun meragu. Tapi aku harus pergi.


Kamu membuka pintu selebar itu untukku, namun tak sedikitpun kamu membiarkanku masuk, bahkan untuk berteduh sekalipun, ini badai...
Bukalah pintu selebar itu, jika memang kamu benar-benar siap.

Sabtu, 15 November 2014

Thank God It’s Rain

I’m sitting down like doing nothing at my room. My temporary room. Build something that could makes me like doing something but it’s all fail. Yes, pardon, I really doing nothing. And thinking entirely. And memories start. And tear drops. Feels like life’s so bad to pass by. I’m just so tired, mama...

And rain down.

Indonesia’s proverb said that like a long dray revenge by a day rain. It was as good as I thought, I’m back to me, my smiles, my spirits, my, oh my real life. And gone sad again. And thinking entirely. And memories start. About you. Hahaha, you. Let me ask, why it’s all always you? The woman’s man and I’m just a girl who is not going to grow up immediately. And tear drops.

But thank God it’s rain. It’s kinda a thing that could back up a bit of me.
Thank God it’s rain. I'm so in love with it. But next time, remind me about rain and without a thought of him. Because it’s gonna make something like thinking entirely, and memories start, and tear drops. And I never want it.

Thank God.
Thank you.

A bit me, Marisa, lot of love!
I mean A LOT!

Kamis, 16 Oktober 2014

Something Remind

Coba pandang aku lagi, sepertinya aku pernah dipandang seperti itu. Persepsiku mengatakan kau sedang menganalisisku, tapi biasanya bukan seperti itu. Sesekali aku melirikmu, lalu kau buang pandang. Semua terasa tak asing kala pandanganmu tertuju padaku. Ada rasa deg-degan, namun kurasa belum saatnya. Dingin, namun hangat. Kaku, namun lembut.

Ohya! Kau masa lalu itu! Maksudku, kau seperti dia. Dia yang sangat berhasil membuatku gila dengan dingin-namun-hangat-nya, dengan kaku-namun-lembut-nya, dengan hilangnya yang membuatku semakin gila, hingga harus merasakan sendiri terlalu lama. Spontan aku membandingkan, yah kebiasaan ini memang sulit dihilangkan. Pembawaan yang mirip, meski kau lebih terlihat tegas dan bertujuan. Dia bukan calon ilmuwan sepertimu, hanya berkutat dengan seni dan olahraga jalanan. Tentu saja cara memandangiku, yang dalam dan sangat sulit diartikan, apalagi kacamata itu ikut-ikut jadi hal yang harus disama-samakan. Acuh tak acuh, officially sama!

Aku ingat dulu pernah berangan-angan bisa memiliki lagi seseorang seperti dia. Lalu, inikah jawabannya, Tuhan? Aku harap aku tidak pernah terburu-buru lagi untuk kesekian kalinya. Ada yang bilang, aku adalah salah satu makhluk over-perception kadar besarrr. Terbukti, jatuh pada lubang dengan kasus yang sama untuk kelima kalinya bukan suatu keputusan yang cerdas, ya itu lah pemikiran makhluk over-perception. Hahaha.


Sekian, hanya sedikit mencurahkan.

Minggu, 17 Agustus 2014

Aku Rindu

Sudah berapa lama aku pergi? Sekitar tiga bulan ya. Bagaimana kabarmu? Semalam seseorang yang bahkan belum pernah aku temui mengingatkanku padamu. Tentang bagaimana aku meninggalkanmu dengan alasan yang murah, sangat-murah. Dia sangat mencuri perhatianku, membuatku mencoba mengulang ingatanku bersamamu. Lalu aku tersenyum asimetris dan mencibir diriku sendiri. Begitu bodohnya aku meninggalkan kamu yang sesungguhnya adalah bagian dari diriku. Dia tidak sekedar mencuri perhatianku, seakan-akan menyuruhku kembali padamu. Rasanya berat sekali hingga aku mencoba membagikan ini. Dia membuatku merasa bahwa aku dan kamu tidak akan terpisahkan oleh apapun. Aku ulangi. Apapun. Dia membuatmu menjadi sangat spesial untukku, lagi. Bukan berarti kamu pernah menjadi yang tidak spesial, namun selama ini kamu sedikit tersisihkan dengan aktifitas kampus yang ya, kalian pasti tahu, sibuk. Kuliah, organisasi, dan hobi baru yang sebenarnya sangat dekat denganmu. Entahlah, aku selalu beralasan untuk bercengkerama denganmu. Alah, bertemu atau hanya menatapmu saja aku malas. Siapa dia? Dia yang membuatku terus memikirkanmu, ingin kembali bersamamu, selalu dekat denganmu, dan mungkin hari ini adalah hari terakhir akan kesempatan itu. Siapa dia?

Kamu pasti ingat, ketika Hujan, kamu membuatku bertemu dengannya secara virtual. Dari situ aku mengenalnya, tidak banyak. Lalu pada Detik lain, dia kembali menemuiku dan membuatku lebih dekat dengannya. Kami berbincang-bincang sedikit tentang hal-hal sepertimu di Twitter. Itu membuatku merasa ada orang baru yang sangat mendukung aku dan kamu terus bersama dan aku sangat bahagia. Aku mencoba memanggilnya untuk mencampuri urusanku lagi pada Saturday Morning-ku bersamamu, namun dia tidak terlihat. Aku masih berharap bisa berbagi apapun dengannya, kamu termasuk dan menjadi hal nomor satu yang membuatku dan dia dekat. Aku sangat bahagia saat dia mau membantuku memperbaiki ucapanku yang ingin aku katakan padamu. Aku bahagia dia menjadi temanku, dan membuatku rindu padamu. Sangat rindu. Tidak akan seperti ini jika rinduku hanya biasa-biasa saja.

Kamu dan dia sepertinya bersekongkol agar aku kembali pada dunia yang lumayan lama kutinggalkan, ya kan? Tak apalah, aku bahagia. Tidak pernah kurasakan ini sebelumnya, sebahagia ini. Siapa yang tidak bahagia, seseorang yang pergi dari dunianya yang sebenarnya tidak mungkin ditinggalkan, dan bisa kembali karena satu hal yang biasanya disebut rindu.

Seperti aku merindukan laki-laki yang biasanya di rumah setiap pagi dan mengantarku sekolah.
Seperti aku merindukan laki-laki yang tidak jarang mengajakku berbincang-bincang dengan bahasa Arab dan aku adalah kesayangannya.
Seperti aku merindukan laki-laki yang tidak pernah tidak tersenyum padaku.
Seperti aku merindukan laki-laki yang mau menerimaku karena apa yang ada di dalam diriku.

Seperti itulah aku merindukanmu. Bedanya, empat laki-laki itu jelas sudah pergi dan tidak akan pernah kembali. Namun kamu akan tetap ada meskipun aku lengah dan pergi, kamu pasti hanya menungguku kembali. Lalu ketika aku terlalu bersemangat dengan dunia luar, kamu pasti hanya menugguku kembali. Bahkan ketika aku nanti melupakanmu, kamu pasti hanya menungguku kembali. But now, I’ll make sure that I will never leave you, again. Remind me of this.

Aku rindu.
Dan... aku kembali padamu.

Peluk hangatku, untuk kamu, dia, dan kalian para pembaca.

Senin, 06 Mei 2013

Saturday Morning :)


When I see your face, there's not a thing that I would change
Cause boy you're amazing, just the way you are...

First sight, beberapa bulan lalu, aku jatuh cinta banget sama matanya. His eyes, his eyes, make the stars look like they're not shining... Cuma itu doang. Lama-lama jatuh cinta sama orangnya :) Apa banget gitu, bisa suka sama dia. Bener-bener nggak nyangka x) Betapa dia udah aku bahas ya di artikel curcol sebelumnya. So, goes it on...

Kamis, 2 Mei 2013, sekolah aku lagi prom kan. Nah, kebetulan aku bawain Love Story-nya Taylor Swift di awal acara, nggak awal-awal banget sih. Apa yang unik? Ini... Setiap ada kata "You", aku selalu nengok bahkan nunjuk tempat dia duduk. Biasa? Oke, lanjut. Inget reff setelah brigde? Yang ini:
Romeo take me, I've been feeling so alone
I keep waiting for you but you never come
If this in my head I don't know what to think
He nelt to the ground and pulled on a ring, and said...

Marry me, Juliette. You never have to be alone
I LOVE YOU, AND THAT'S ALL I REALLY KNOW
stop!

Nah, lirik yang kebagian caps lock jebol itu!! Meskipun makna di lagu itu seakan-akan yang bilang Romeo, beda kalo aku. Pas lirik itu, aku memberanikan diri pake bahasa isyarat, nunjuk dan ngliat dia! Shock, temen-temen semejaku yang tempatnya dua meja di depan meja dia bilang "Gila, ini anak serius berani banget!" Kebanggaan sih, meskipun cuma tersirat :) Entahlah dia tau apa nggak, yang penting itu buat dia. Cuma dia :)

Trus, ada apa di Sabtu pagi?
4 Mei 2013, partner acoustic group-ku ultah. Nyusun rencananya di rumah personil lain yang lumayan jauh sama TKP. Iseng sih, lewat tempat nongkrong Romeo-ku (halah--"), yang dulunya, sebelum dia suka nongkrong di situ, jadi basecamp-ku. Demiapa-demiapa-demiapa-demiapa nih, ada dia di depan x) Awalnya yang keliatan cuma yang punya tempat sama 2 anaknya, dianya nggak keliatan. Pas udah deket, yang punya tempat manggil aku, dia nengok, niat daa-daa sama yang punya tempat sih sebelumnya, tau dia nengok pake senyum ke aku, jadi daa-daa ke dia. Sampe nggak bales sapaan yang punya tempat. Wah, berasa nge-freeze, trus bunga-bunga yang harum jatuh pelan-pelan, slow motion bangeeet pas itu x) Belum jauh dari situ, aku udah teriak-teriak nggak jelas xD Sampe parkir di rumah temenku, bahkan sampe di dalem rumah, belum sembuh juga senengnya xD Seneeenggg banget!!! Aseli fix demi apapun!!!

Sebelumnya cuma bisa liat senyumnya dari jauh. Sekarang ngliat senyumnya dia yang buat aku x) Melting luar biasaaa... It feels like that time was the best time I breathe. Every time I see his smile, I'm falling in love over and over again. Impossible but that's true! For real I see him smiling at me. Until I smile like an idiot when I see that.
You have to know that I see a sunshine when you smile, Romeo :) Show that sweet smile everyday for your life, everyone must be have a smile like yours. I can't stop thinking about that smile, your smile :)
I miss you :)

 

Rabu, 03 April 2013

Detik (tik tok tik tok)


It's Wednesday. Third day on April. It's mean, how long can we keep this up? up? up? ehh ( ._.) ...

15 April, perang hari pertama.
Gimana persiapannya? Sementara latihan-latihan perang sebelumnya bisa dibilang gagal. Nggak kalah sih, tapi jauh dari menang! Siang ini saya sama temen-temen seangkatan training motivasi dari seorang dokter sekaligus da'i, penulis, dosen, motivator, dan ayah yang sayang banget sama keluarga. Alami banget, setiap kata motivasi yang keluar dari mulut beliau itu semacam officially bahasa beliau sehari-hari, nggak dibuat-buat. Berapa kali saya dibikin nangis-ketawa-nangis ketawa. Haha, luar biasa :)

Biasa, setiap acara kolosal seangkatan, saya selalu duduk berlima bareng sahabat-sahabat luar biasa, seluar biasa persiapan Ujian Nasional. Luar biasa belum siap :') *skip*

Ehem, waktu bergulir semakin cepat, secepat itu hari menuju medan perang, secepat itu pula, bahkan mungkin lebih cepat, rasa kagum terus bertambah. Seseorang yang nickname-nya saya sebutin di atas. Chunky :) Sebenernya saya mau cerita ini, curcol maksudnya. Bahkan saya nggak tau ini namanya apa. Semakin saya menyuruh otak saya tidak memikirkan dia, semakin bandel aja si otak, ngajak hati lagi. Mau bully saya apa ya kalian ini?
Betapa semakin hari saya semakin dibikin kagum sama si Chunky. Apa yang dia lakukan? Nothing. Nggak ada, sama sekali nggak ada. Kayak angin, berhembusss. Udah gitu aja. Saya aja nggak tau gimana saya bisa mulai kagum sama dia. Saya bahkan bingung, kok bisaaa... Dasarnya nggak kenal. Bisa dibilang "falling in love with stranger". Awalnya saya pikir ini sementara, nggak nyangka, saya jadi secret admirer udah hampir empat bulan :') Saya sampe bikin "Being Your Beloved Secret Admirer's Anniversary", 13 Desember 2012, duabelas hari sebelum saya berangkat liburan ke Borneo selama dua minggu. Dan saya mendalami perasaan itu di sana, Borneo. Bayangkan, saya bisa mengagumi seseorang ketika saya sangat jauh dari kota saya, tapi saya mengagumi seseorang dari kota sendiri. God... Saya sempet berusaha naksir mahasiswa Borneo, tapi yang saya ingat ya cuma si Chunky.
Kalo inget Chunky, di mana pun saya berada, yang ada di pikiran saya itu, pertama "Kok bisa ya?" Paten! Pasti! Baru deh yang lainnya, macem-macem. Nah, kenapa tiba-tiba si Jomblowati dua tahun ini tiba-tiba cerita beginian? Karena saya bangga bisa mengaguminya, sedikit demi sedikit mengenal dia. Masih keinget banget kata-kata di salah satu film Thailand favorit saya, Crazy Little Thing Called Lovepas Si Nam udah sukses jadi designer terkenal di USA dan ditanya wartawan alasannya bisa berubah modis dari penampilan masa lalunya yang dia sama sekali nggak bisa dandan, cupu, jelek, hitam, dan sebagainya, bahkan sampe menginspirasi orang lain dari design-design yang dibuatnya. Apa jawabnya coba? "Karena saya jatuh cinta pada seseorang, meskipun sad ending, dia menginspirasi saya untuk memakai perasaan ini pada jalan yang benar. Sampai, saya jadi seperti sekarang ini." Gitu jawab Si Nam. Trus apa hubungannya sama saya? Nah, Chunky adalah inspirasi saya :) Salah satunya, dia itu bikin saya semangat belajar, meskipun dia nggak ngapa-ngapain saya. Intinya, saya bangga bisa punya perasaan ini buat seseorang yang menurut saya tepat. Saya nggak peduli ending-nya gimana, saya nggak berharap ada ending. Biarkan saya jadi secret admirer-nya sampe nggak tau kapan...
Thanks a lot, Chunky :)

Sabtu, 15 Desember 2012

Jangan Tanyakan Posisi


“Di atas itu nggak selamanya bahagia, di bawah itu nggak mesti duka. Mungkin justru berada di antaranya kita akan ketemu sama yang namanya sederhana.”

Banyak banget bukti-bukti dari praktek tindakan di atas, berusaha ada di antara atas dan bawah juga jadi pribadi yang sederhana. Tapi sayang, beda banget sama yang aku rasakan. Tiga posisi itu nggak ada bagus-bagusnya buat aku. Mungkin, kata “galau” ada karena perasaan nyaman nggak didapetin pas ada di tengah. Ketika kita memilih menjadi The Middle di antara atas dan bawah tapi yang kita dapetin bukan sederhana, mau apa? Bingung kan. Bahkan The Middle adalah posisi terburuk, menurutku. Kenapa aku bisa bilang demikian? Kebetulan aku pernah mengalami tiga posisi ini di waktu yang mungkin nggak enak banget.

Di atas,
Aku suka banget nyanyi. Kebetulan beberapa tahun yang lalu sempet punya band. Gimana nggak bahagia, aku nggak pernah punya kenalan anak band, paling cuma beberapa pemain gitar amatir yang sering akustikan nggak jelas. Eits, ternyata anak band itu terlahir dari ‘pemain gitar amatir yang sering akustikan nggak jelas’. Entah ada angin apa, mereka yang udah terbentuk dan udah punya nama ngajak aku gabung sama mereka buat ngisi kekosongan di bagian depan, vokalis. Sumpah, saat itu aku berasa keren, berasa jadi orang paling beruntung di antara orang-orang yang pengen tapi nggak bisa.
Setelah terbuai cukup lama, aku sadar tentang sesuatu. Posisi itu nggak abadi. Debat adalah snack yang paling sering kami bawa setiap ke studio. Keputusan terakhir dari perdebatan nggak menjamin semua personil setuju, satu atau dua orang pasti nggak match. Sampai akhirnya memutuskan untuk vakum dan kebablasan juga, sampai nggak berbau.
Nggak cuma itu, pandangan orang tentang aku before after udah beda. Dan itu nggak enak.
Nggak enak…
Itu salah satu contoh nggak enaknya jadi orang ‘di atas’ setelah membaur dengan kenyataan.

Di bawah,
Aku tipe orang yang nggak terlalu suka ‘ngoyo’. Sifat jelek sih kalau dibawa sekolah. Kayak misal aku nggak bisa rumus A, aku coba tetep nggak bisa, akhirnya aku nyerah. Sampai ketemu ujian, nilai-nilaiku sama sekali nggak memuaskan, bodohnya lagi aku nggak introspeksi. Sampai ketemu pembagian raport, dan rankingku di bawah banget. Aku nangis, nangis karena nyesel. Tapi ya cuma di saat itu aja.
Mungkin orang-orang di sekitarku pada risih kali ya ngliat aku nggak ada usaha sama sekali buat maju, sampai akhirnya pada menjauh dan aku merasa dibutuhkan di saat-saat yang nggak terlalu penting.
Setelah aku bener-bener punya niat berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik, kesempatan itu udah hangus. Nggak banyak yang bisa nerima perubahanku.
Nggak cuma itu, pandangan orang tentang aku before after udah beda. Dan itu nggak enak.
Nggak enak…
Itu salah satu contoh nggak enaknya jadi orang ‘di bawah’ setelah membaur dengan kenyataan.

Di tengah,
Bayangin aja, ada di antara seorang temen yang tiba-tiba jadi artis mendadak di mana kita juga lagi pengen banget di posisi itu dan temen yang sama sekali nggak ada usaha buat maju di mana kita lagi usaha sekuat tenaga demi mencapai hal yang sama lalu dia hanya mengandalkan sesuatu yang nggak baik.
Dan itu nggak enak.
Nggak enak…
Itu salah satu contoh nggak enaknya jadi orang ‘di tengah’ setelah membaur dengan kenyataan.
Sederhana itu nggak segampang bayangan. Ternyata. Kita justru tersiksa hidup di antara atas dan bawah. Biasanya hal ini yang bikin seseorang pengen menyindiri dalam jangka waktu yang lumayan lama. Tapi lihat aja, sampai kapan mereka mau menyendiri? Selamanya?
Bagaimanapun juga kita semua adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain. Dan bahasan di atas bisa diartikan,
“Kehidupan bukan untuk memilih posisi di atas, di bawah, ataupun di tengah. Tapi bagaimana kita bisa sangat pandai menjadi makhluk sosial yang berguna bagi SIAPA SAJA.”


-marisadews-
(parable)

Kamis, 02 Februari 2012

Full to overflowing!

Setiap manusia pasti punya?
KEKURANGAN dan KELEBIHAN!
Kita nggak bisa hidup di dunia ini,
Sendirian…
Yang bisa boleh tunjuk tangan!
Aku pikir nggak akan pernah ada SEORANGPUN!
Aku butuh kamu, dia, kalian, beliau, mereka…
Begitupun kamu…

KEEGOISAN udah merajalela semenjak manusia mengenal PERSAINGAN. Ya, persaingan itu perlu, bahkan sangat perlu. Tapi lihat, ingat, dan perhatikan! Setiap manusia pasti punya? KEKURANGAN dan KELEBIHAN! Untuk menuju kesempurnaan, meski pasti berujung pada ketidaksempurnaan, manusia harus hidup saling melengkapi. Maka akan lahir PERSAINGAN SEHATBeautiful is it, right?

Aku, bukan gadis penuh talenta yang bisa melakukan segala hal dengan keseimbangan sempurna antara otak, hati, dan organ-organ tubuh lainnya. Aku bisa terpeleset bahkan terjatuh. Aku bisa mengkhayal sekalipun itu bener-bener nggak masuk akal. Aku bisa menyakiti perasaan orang lain bahkan sampai membuatnya menangis ataupun bunuh diri. Aku bisa melakukan hal-hal bodoh lainnya. Kenapa? Alasannya cuma satu, karena aku MANUSIA BIASA… SBY pun pasti pernah mengalami. Siapapun!

Aku bisa menyakiti perasaan orang lain bahkan sampai membuatnya menangis ataupun bunuh diri. Ternyata justru perasaanku yang tersakiti saat ini. Ini bukan tentang cinta ataupun persahabatan, cuma pertemanan biasa yang ternyata menusuk setelah dibelai. Adilkah? Singa saja menggeleng, so do I... Bagaimana dengan anda, wahai penusuk dan pencabik perasaan saya?



Allah SWT Maha Kaya. Dia akan memberikan apa yang dibutuhkan hamba-Nya yang bertakwa. Semoga saya termasuk dalam golongan orang yang bertakwa, begitupun anda :)