Sekitar dua setengah jam lalu, kereta api ekonomi yang seharusnya mengantarkan saya kembali ke perantauan datang beberapa menit sebelum saya. Alhasil, pasti, saya ditinggal begitu saja. Bahkan petugas tiket saya tangisi, berhubung saya menyadari kalau saya tak lagi anak-anak, saya mencoba mencari tempat duduk dan menenangkan diri. Saya masih belum punya pikiran untuk ikhlas.
Sesaat kemudian saya mencoba bangkit dan mengantre tiket untuk esok pagi. Laa ilaahaillaallaaah, habis! Saya kembali duduk dan menenangkan diri, lagi. Kemudian saya menangis sedikit-sedikit, sembunyi-sembunyi tentunya, dan memutuskan untuk kembali pulang dan merencanakan kembali ke perantauan dengan bus esok subuh.
Semilir angin teman perjalanan pulang mengingatkan saya pada mimpi semalam, tentang saya yang mengejar mobil paman, namun tak sampai. Kemudian, tentang pertanyaan ibu yang mengharapkan saya kembali ke Surabaya hari Selasa. Ya, bu, firasatmu luar biasa!
Di antara suara hati yang mengaum, saya mencoba untuk condong ke manfaatnya. Itung-itung 5500 perak tiket kereta api yang tak terpakai itu adalah biaya ngekos semalam lagi di rumah sendiri. Lagi pula tiga hari ini saya belum sempat mencicipi beras kencur eyang putri.
Sejujurnya, hati ini belum bisa menerima kenyataan. Saya sempatkan Beat putih yang saya namai Jacob nangkring di tempat parkir Indomaret dan menunggu saya keluar membawa dua kerucut es krim Cornetto edisi Taylor Swift, idola saya. Allahu Akbar, kode unik yang saya nanti-nantikan kemunculannya di beberapa bungkus Cornetto akhirnya muncul sekaligus di 2 bungkus kerucut Cornetto yang baru saya beli! Kemudian saya berpikir, kalau saja tadi saya tidak terlambat menjemput kereta, pasti poin saya tetap segitu-gitu saja (baca:dua). Hahaha.
Muncul lah beberapa rencana baru untuk menghabiskan beberapa jam di kampung halaman sebelum esok kembali ke perantauan. Melanjutkan skrip film, menyunting tulisan-tulisan kacau, kuliner nasi goreng, dan jamu gratis eyang putri. Subhanallah, saya syukuri gundahnya terpontang-panting keadaan sore ini. Alhamdulillah, subhanallah :)
Tinggal pilih, syukuri? Atau, sukurin? :)
Senin, 31 Maret 2014
Sabtu, 20 Juli 2013
Untold Story
Kapan kita bisa seperti ini lagi di kemudian hari? Aku sudah berencana merindukanmu dan semua ini. Kenapa zona nyaman kita baru terasa beberapa bulan terakhir? Tuhan adil? Belum berpisah saja aku sudah sering membayangkanmu di tiap lamunku. Kamu pergi sebentar saja, rasanya ingin merapal salah satu mantra Harry Potter-film favorit kita, "Accio!". Entah kamu yang akan kembali atau aku yang menghampiri. Sepertinya aku mulai mencintaimu, setelah bertahun-tahun kita kenal, sayangnya tidak saling mengenal. Kita sama-sama beranjak dewasa, mungkin itu yang mematangkan hati kita untuk saling mengenal, saling membutuhkan, dan saling mencintai. Selamanya deh.
Aku ingat, ketika kita menonton salah satu film Will Smith. Aku terus menanyaimu, apa tidak ada makhluk lain selain Will dan anjingnya? Kenapa kota itu bisa kosong? Aneh, nggak masuk akal, tapi gimana sih maksudnya? Kemudian kamu menatapku dalam, aku juga belum paham! Lalu kita tertawa, tidak peduli siapa kanan-kiri kita di tempat yang gelap dan luas itu. Yang kita lakukan hanya makan sambil melihat layar di depan. Hanya melihat layar, bukan menonton filmnya. Setelah keluar, kita bertengkar dan pulang sendiri-sendiri.
Itu beberapa tahun lalu, kenangan agak manis yang sejauh ini bisa kuingat. Tentunya sebelum zona 'sangat' nyaman ini. Aku ingat lagi, betapa ibuku hanya mengizinkanku pergi bersama satu pria saja, yaitu kamu. Kemana-mana harus bersamamu. Jelas, membosankan sekali. Tapi sekarang aku menyimpulkan, aku bosan karena kita saling diam dan jarang tertawa. Seperti sampai hari ini, tiada hari tanpa tertawa bersamamu. Apa saja bisa jadi adonan untuk kita makan kelucuan-kelucuan yang terselubung. Seperti menertawakan nada pujian (lantunan setelah adzan) mushola dekat rumah yang kita anggap lucu, karena selalu ada cengkok aneh di akhir baris. Atau, saat kita kebetulan menonton Sule di TV, apa yang dia lakukan selalu kita anggap lucu dan menciptakan tawa. Kita gila, kita gilaaa! Hahaha.
Kadang aku menangis sendiri di kamarku, menyadari kita harus berpisah. Aku harus pergi melakukan kewajibanku yang lain, yang tidak bisa kulakukan jika kamu ada di sampingku. Kamu tidak marah, kan? Semarah apapun kamu, aku harus tetap pergi. Tidak lama sebenarnya, tapi aku yakin kita akan saling merindukan. Aku sama sekali tidak berpikir bagaimana aku nanti bisa tertawa jika bukan bersamamu? Bagaimana aku pergi kemana-mana jika tidak bersamamu? Bagaimana aku makan rakus jika tidak makan makananmu? Dan akan muncul bagaimana-bagaimana yang lain, nanti.
Sekitar satu setengah bulan lagi, aku pergi. Tidak jauh dan tidak terlalu lama. Aku akan selalu berdoa yang terbaik buatmu, selalu. Mungkin aku harus menemuimu sebulan atau dua bulan sekali. Mungkin, itu jadi keharusanku, kan? Aku hanya takut. Aku takut melupakanmu, melupakan kita. Aku takut.
Deep sigh...
Adikku,
Aku menyesal telah membuang sangat banyak waktu kita untuk bertikai. Saling membenci. Saling melukai. Saling mementingkan keegoisan masing-masing. Berapa waktu kita untuk itu? Sejak bapak pergi dan kamu mulai nakal di usiamu yang masih satu setengah tahun. Sejak itu aku membenci kehadiranmu di setiap adaku. Lalu, berapa waktu kita untuk tertawa bersama? Bercanda tanpa tahu malu di tengah antrean kebab, menertawakan kespontanan orang-orang di sekitar yang 'kita anggap' lucu. Aku bisa menghitungnya dengan jariku. Aku bersyukur hitungan ini bukan per hari, di atas itu, di atasnya lagi.
Sudah aku bilang, satu setengah bulan lagi aku harus pergi untuk waktu yang terbilang lama. Aku akan jarang melihatmu bergerak, begitupun kamu. Aku harap kita bisa memanfaatkan waktu singkat itu untuk tertawa bersama..
Marisa
Untold Story, because I wrote it!
Aku ingat, ketika kita menonton salah satu film Will Smith. Aku terus menanyaimu, apa tidak ada makhluk lain selain Will dan anjingnya? Kenapa kota itu bisa kosong? Aneh, nggak masuk akal, tapi gimana sih maksudnya? Kemudian kamu menatapku dalam, aku juga belum paham! Lalu kita tertawa, tidak peduli siapa kanan-kiri kita di tempat yang gelap dan luas itu. Yang kita lakukan hanya makan sambil melihat layar di depan. Hanya melihat layar, bukan menonton filmnya. Setelah keluar, kita bertengkar dan pulang sendiri-sendiri.
Itu beberapa tahun lalu, kenangan agak manis yang sejauh ini bisa kuingat. Tentunya sebelum zona 'sangat' nyaman ini. Aku ingat lagi, betapa ibuku hanya mengizinkanku pergi bersama satu pria saja, yaitu kamu. Kemana-mana harus bersamamu. Jelas, membosankan sekali. Tapi sekarang aku menyimpulkan, aku bosan karena kita saling diam dan jarang tertawa. Seperti sampai hari ini, tiada hari tanpa tertawa bersamamu. Apa saja bisa jadi adonan untuk kita makan kelucuan-kelucuan yang terselubung. Seperti menertawakan nada pujian (lantunan setelah adzan) mushola dekat rumah yang kita anggap lucu, karena selalu ada cengkok aneh di akhir baris. Atau, saat kita kebetulan menonton Sule di TV, apa yang dia lakukan selalu kita anggap lucu dan menciptakan tawa. Kita gila, kita gilaaa! Hahaha.
Kadang aku menangis sendiri di kamarku, menyadari kita harus berpisah. Aku harus pergi melakukan kewajibanku yang lain, yang tidak bisa kulakukan jika kamu ada di sampingku. Kamu tidak marah, kan? Semarah apapun kamu, aku harus tetap pergi. Tidak lama sebenarnya, tapi aku yakin kita akan saling merindukan. Aku sama sekali tidak berpikir bagaimana aku nanti bisa tertawa jika bukan bersamamu? Bagaimana aku pergi kemana-mana jika tidak bersamamu? Bagaimana aku makan rakus jika tidak makan makananmu? Dan akan muncul bagaimana-bagaimana yang lain, nanti.
Sekitar satu setengah bulan lagi, aku pergi. Tidak jauh dan tidak terlalu lama. Aku akan selalu berdoa yang terbaik buatmu, selalu. Mungkin aku harus menemuimu sebulan atau dua bulan sekali. Mungkin, itu jadi keharusanku, kan? Aku hanya takut. Aku takut melupakanmu, melupakan kita. Aku takut.
Deep sigh...
Adikku,
Aku menyesal telah membuang sangat banyak waktu kita untuk bertikai. Saling membenci. Saling melukai. Saling mementingkan keegoisan masing-masing. Berapa waktu kita untuk itu? Sejak bapak pergi dan kamu mulai nakal di usiamu yang masih satu setengah tahun. Sejak itu aku membenci kehadiranmu di setiap adaku. Lalu, berapa waktu kita untuk tertawa bersama? Bercanda tanpa tahu malu di tengah antrean kebab, menertawakan kespontanan orang-orang di sekitar yang 'kita anggap' lucu. Aku bisa menghitungnya dengan jariku. Aku bersyukur hitungan ini bukan per hari, di atas itu, di atasnya lagi.
Sudah aku bilang, satu setengah bulan lagi aku harus pergi untuk waktu yang terbilang lama. Aku akan jarang melihatmu bergerak, begitupun kamu. Aku harap kita bisa memanfaatkan waktu singkat itu untuk tertawa bersama..
Marisa
Untold Story, because I wrote it!
Selasa, 25 Juni 2013
"Still Into You" by Paramore for Paraoke (Marisa from Indonesia) ♥
Visit me there :D
And... at Paraoke (Paramore Karaoke) Contest here http://www.paramore.net/video/marisa-still-you-paraoke-contest-2068011
Jumat, 31 Mei 2013
Paramore - Holiday (cover by marisadews)
Click the link below, and you'll hear me singing live :D Left some comment :D Thanks a lot ^^
Paramore - Holiday (cover by marisadews)
Paramore - Holiday (cover by marisadews)
Senin, 06 Mei 2013
Saturday Morning :)
When I see your face, there's not a thing that I would change
Cause boy you're amazing, just the way you are...
First sight, beberapa bulan lalu, aku jatuh cinta banget sama matanya. His eyes, his eyes, make the stars look like they're not shining... Cuma itu doang. Lama-lama jatuh cinta sama orangnya :) Apa banget gitu, bisa suka sama dia. Bener-bener nggak nyangka x) Betapa dia udah aku bahas ya di artikel curcol sebelumnya. So, goes it on...
Kamis, 2 Mei 2013, sekolah aku lagi prom kan. Nah, kebetulan aku bawain Love Story-nya Taylor Swift di awal acara, nggak awal-awal banget sih. Apa yang unik? Ini... Setiap ada kata "You", aku selalu nengok bahkan nunjuk tempat dia duduk. Biasa? Oke, lanjut. Inget reff setelah brigde? Yang ini:
Romeo take me, I've been feeling so alone
I keep waiting for you but you never come
If this in my head I don't know what to think
He nelt to the ground and pulled on a ring, and said...
Marry me, Juliette. You never have to be alone
I LOVE YOU, AND THAT'S ALL I REALLY KNOW
stop!
Nah, lirik yang kebagian caps lock jebol itu!! Meskipun makna di lagu itu seakan-akan yang bilang Romeo, beda kalo aku. Pas lirik itu, aku memberanikan diri pake bahasa isyarat, nunjuk dan ngliat dia! Shock, temen-temen semejaku yang tempatnya dua meja di depan meja dia bilang "Gila, ini anak serius berani banget!" Kebanggaan sih, meskipun cuma tersirat :) Entahlah dia tau apa nggak, yang penting itu buat dia. Cuma dia :)
Trus, ada apa di Sabtu pagi?
4 Mei 2013, partner acoustic group-ku ultah. Nyusun rencananya di rumah personil lain yang lumayan jauh sama TKP. Iseng sih, lewat tempat nongkrong Romeo-ku (halah--"), yang dulunya, sebelum dia suka nongkrong di situ, jadi basecamp-ku. Demiapa-demiapa-demiapa-demiapa nih, ada dia di depan x) Awalnya yang keliatan cuma yang punya tempat sama 2 anaknya, dianya nggak keliatan. Pas udah deket, yang punya tempat manggil aku, dia nengok, niat daa-daa sama yang punya tempat sih sebelumnya, tau dia nengok pake senyum ke aku, jadi daa-daa ke dia. Sampe nggak bales sapaan yang punya tempat. Wah, berasa nge-freeze, trus bunga-bunga yang harum jatuh pelan-pelan, slow motion bangeeet pas itu x) Belum jauh dari situ, aku udah teriak-teriak nggak jelas xD Sampe parkir di rumah temenku, bahkan sampe di dalem rumah, belum sembuh juga senengnya xD Seneeenggg banget!!! Aseli fix demi apapun!!!
Sebelumnya cuma bisa liat senyumnya dari jauh. Sekarang ngliat senyumnya dia yang buat aku x) Melting luar biasaaa... It feels like that time was the best time I breathe. Every time I see his smile, I'm falling in love over and over again. Impossible but that's true! For real I see him smiling at me. Until I smile like an idiot when I see that.
You have to know that I see a sunshine when you smile, Romeo :) Show that sweet smile everyday for your life, everyone must be have a smile like yours. I can't stop thinking about that smile, your smile :)
I miss you :)

Langganan:
Postingan (Atom)








