Selasa, 17 Maret 2015

It’s not a love, yet

Seperti beberapa kalimat menyentuh yang sering aku temukan di beberapa situs, tentang cinta. Bagaimana seseorang akan menyerah dalam cinta pada akhirnya. Bagaimana logika akan takluk dengan hadirnya. Dan cinta itu yang akan membuat segala kerumitan menjadi sangat sederhana. Atau sebaliknya. Manusia seperti aku, kamu, siapapun itu, hanya bisa bertanya dan menjawabnya sendiri dengan berbagai perkiraan. Bagaimana akhir dari perjalanan yang sebelumnya disebut cinta olehnya. Pada akhirnya, keadaan adalah titik di mana mereka akan menyerah, dan memutuskan untuk tidak pernah peduli dengan cinta. Seandainya aku bertanya tentang arti cinta pada diriku sendiri, mampukah aku menjawabnya? Setahuku, dengan berbagai perkiraan yang ada, aku tidak benar-benar mengerti akan maknanya. Satu, ketika kita mengusahakan yang terbaik bagi hidupannya dan terus berusaha memantaskan diri menjadi yang terbaik di sisinya, itu cinta. Dua, menyebut namannya selalu dalam doa seusai dua kali salam tanpa berharap dia melakukan hal yang sama, itu cinta. Tiga, empat, lima, dan seterusnya adalah penentu, seberapa dalam kita memaknainya. Dan aku belum menemukannya. People has their own thought about it, just figure it out.
Aku mengenalnya belum cukup lama. Awalnya, aku tertarik akan parasnya, di mana tidak ada manusia yang buta akan pandangan pertama dalam hal ini. Kemudian berlanjut pada perbincangan singkat dunia maya yang semakin lama terbuka dan bukan hanya paras sebabku tertarik padanya. Dengan pikiran yang sama akan kegagalan-kegagalan lawas yang sebelumnya pernah terjadi, aku tidak berharap sosok cinta yang rumit itu hadir di hati. Wait, like I said, it’s not a love, yet. Ada pemisah antara aku dan dia untuk beberapa saat, bukan jarak, karena dunia maya membantu kami saling mengenal. Pemisah itu aku namai, waktu. Pada akhirnya, kami bertemu pada satu titik, jarak nol kilometer, dan pada detik yang sama. Dia menjabat tanganku, begitupun aku. Seperti sudah mengenalnya lebih lama, aku berbincang dengannya, mengenai hidupnya, mengenai hidupku. It’s not a love, yet.
Lagi-lagi, musuh kami adalah waktu. Aku tinggal menunggu. Dan aku tidak peduli tentang dia terhadapku. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa, kusebut namanya selepas nama ibu dan ayahku. “Tuhan, beri dia bahagia, bersama orang yang tepat yang mampu memahaminya, dan berjalan bersamanya menuju kebenaran-Mu.”

Dari satu atau dua, mungkin kau menemukan maknanya. But all I knew, cinta tidak sesederhana itu. Karena tiga, empat, lima, dan seterusnya belum kutemukan. Siapa tahu, itu membuatnya menjadi sederhana. As far, it’s not a love, yet.

Kamis, 29 Januari 2015

Sam Smith - Stay With Me (cover by Marisa)

Hello, good people in the world!
Here I'm again, Marisa from Indonesia ;)

Now I'm singing Sam Smith's song, Stay With Me. Woof~
Big thanks to :
https://soundcloud.com/acousticinstru...
for the beautiful instrument.


Sam Smith - Stay With Me (cover)









 
I'm a newbie, but I'll accept all song-challenges that you guys give to me and I'll try my best.

Like, subscribe, and make a friendship! Woow~
Find me on Soundcloud, Instagram, and Twitter : @marisadews

See ya :)

Selasa, 25 November 2014

Pintu (Part 1)

Sore itu aku menyadari, aku berlari menjauh dari rumah demi menyatu dengan tanah gersang ini. Aku berusaha mencintainya meski tanpa hadirnya keinginan untuk mencinta. Setiap hari terik menusuk kain baju tebalku, menembus kulit, kemudian ke tulang. Wajah seakan terbakar, jera kupikir untuk kembali, namun aku tetap kembali. Neraka bocor, kata mereka. Pencakar langit terus bermunculan, di mana ada lahan, di situ terpupuk para pekerja berkepala kuning, dan suburlah gedung-gedung yang merasa dirinya adalah pelindung. Aku jarang berkunjung ke ibukota, namun kurasa tempat ini lebih padat. Di rumah, aku jarang mandi sore, dingin. Tidur tanpa kipas, angin sudah seperti orang marah, bahkan selimut pun rindu merangkul setiap malam.
Pekan ini memasuki musim hujan. Rinduku terbayang seperti di rumah. Wangi khas hujan yang tak tergantikan, hujan siang kala tubuh lelah berdendang, jatuhnya kepingan yang bernada. Namun, Tuhan Maha Bercanda. Sedetik gerimis, sehari kuhabiskan waktu menunggu rombongan tetuanya, lalu datang pada sepertiga malam, itupun hanya semenit. Tuhan Maha Bercanda. Manusia-manusia di seberang bahkan sudah mengeluh dengan hujan yang tak henti-henti. Aku? Diam ikhlas menunggu hujan, lalu berbicara pada diri sendiri. Kota ini ditakdirkan untuk gersang dan tidak pernah luput dari terik penuh tusukan. Ya, aku mengerti.
Pagi ini aku bangun dan bergegas menengok keluar, hujankah pagi tadi? Setidaknya debu-debu pagi itu tidak bermunculan menghiasi tapal kuda perangku. Mana terasa hujan semenit? Ya ya ya, tidak hujan... lagi...
Ketika aku menulis ini, entah datang dari mana, dingin menusuk kulit hingga ke tulang, hidungku basah akan peluh, tapi tak ada hujan. Kemudian muncul bayangmu...
“Hai...”, kamu mengintip dari sela-sela pintumu.
Aku tersenyum tipis, lalu mengerutkan keningku. Matamu tidak berhenti menatap, sesekali aku merasa pipimu naik, tanda senyummu sedikit-sedikit merekah. Dari situ kita saling mengenal. Angin sudah seperti orang marah. Sejuk, meski hanya bisa melihat sebelah matamu, dan sedikit sungging senyum bibirmu.
Lama-lama kamu membuka pintu semakin lebar. Tak sadar terik, angin sudah seperti orang marah, rasanya enggan mandi sore, dingin. Sekarang aku bisa melihat kedua matamu dan gigi-gigimu yang berjajar rapi.
“Aku suka itu...”, aku menunjuk malu padamu. Segera kamu membuka pintu sangaaat lebar. Masih dengan mata indah itu dan senyum yang tak ada niatku untuk melupakan. Tak peduli terik, angin sudah seperti orang marah, mandi sore pun enggan, dan ini belum malam, namun selimutku sepertinya rindu merangkul.
“Pintu ini aku buka selebar ini, untukmu...”, aku meyakinimu, tak ada mau untuk sedikitpun meragu. “Tapi jangan masuk dulu...”, kamu menambahkan. Untung aku masih selangkah dari pijakanku. Terik sudah pergi, angin sudah seperi orang marah, mandi sore sudah tidak kupikirkan lagi, selimutku memanggil-manggil namaku izin merangkul. Aku bersabar...
Senyummu masih seperti tadi, namun sedikit demi sedikit memudar. Pandanganmu jadi menginterogasi. Terik memang pergi, angin sudah seperti orang marah, titik-titik air itu akhirnya datang. Aku bertanya, “Boleh aku berteduh?”
Kamu diam seribu ucap.
“Bukankah, pintu terbuka selebar itu untukku?”, aku bertanya lagi.
“Ya”, kamu menjawab singkat. “Aku bilang jangan masuk dulu”, kemudian kamu sungging senyum yang tadi. Aku mengalah.
Terik benar-benar pergi, titik-titik berkembang jadi gerombolan yang lebih kuat. Tanpa aku bicara, kamu sudah bilang, bahwa aku belum waktunya untuk masuk.
Terik benar-benar pergi, titik-titik berkembang jadi gerombolan yang lebih kuat, angin sudah seperti orang marah. Kamu masih memandangiku dan tersenyum. Lama.
“Haruskah aku pergi saja? Ini badai.”, aku bertanya.
Kamu diam.
...
...
...
“Baiklah, aku pergi...”, aku melangkah mundur.
“Pintu ini aku buka selebar ini, untukmu...”, aku meyakinimu, tak ada mau untuk sedikitpun meragu. Tapi aku harus pergi.


Kamu membuka pintu selebar itu untukku, namun tak sedikitpun kamu membiarkanku masuk, bahkan untuk berteduh sekalipun, ini badai...
Bukalah pintu selebar itu, jika memang kamu benar-benar siap.

Sabtu, 15 November 2014

Thank God It’s Rain

I’m sitting down like doing nothing at my room. My temporary room. Build something that could makes me like doing something but it’s all fail. Yes, pardon, I really doing nothing. And thinking entirely. And memories start. And tear drops. Feels like life’s so bad to pass by. I’m just so tired, mama...

And rain down.

Indonesia’s proverb said that like a long dray revenge by a day rain. It was as good as I thought, I’m back to me, my smiles, my spirits, my, oh my real life. And gone sad again. And thinking entirely. And memories start. About you. Hahaha, you. Let me ask, why it’s all always you? The woman’s man and I’m just a girl who is not going to grow up immediately. And tear drops.

But thank God it’s rain. It’s kinda a thing that could back up a bit of me.
Thank God it’s rain. I'm so in love with it. But next time, remind me about rain and without a thought of him. Because it’s gonna make something like thinking entirely, and memories start, and tear drops. And I never want it.

Thank God.
Thank you.

A bit me, Marisa, lot of love!
I mean A LOT!

Kamis, 16 Oktober 2014

Something Remind

Coba pandang aku lagi, sepertinya aku pernah dipandang seperti itu. Persepsiku mengatakan kau sedang menganalisisku, tapi biasanya bukan seperti itu. Sesekali aku melirikmu, lalu kau buang pandang. Semua terasa tak asing kala pandanganmu tertuju padaku. Ada rasa deg-degan, namun kurasa belum saatnya. Dingin, namun hangat. Kaku, namun lembut.

Ohya! Kau masa lalu itu! Maksudku, kau seperti dia. Dia yang sangat berhasil membuatku gila dengan dingin-namun-hangat-nya, dengan kaku-namun-lembut-nya, dengan hilangnya yang membuatku semakin gila, hingga harus merasakan sendiri terlalu lama. Spontan aku membandingkan, yah kebiasaan ini memang sulit dihilangkan. Pembawaan yang mirip, meski kau lebih terlihat tegas dan bertujuan. Dia bukan calon ilmuwan sepertimu, hanya berkutat dengan seni dan olahraga jalanan. Tentu saja cara memandangiku, yang dalam dan sangat sulit diartikan, apalagi kacamata itu ikut-ikut jadi hal yang harus disama-samakan. Acuh tak acuh, officially sama!

Aku ingat dulu pernah berangan-angan bisa memiliki lagi seseorang seperti dia. Lalu, inikah jawabannya, Tuhan? Aku harap aku tidak pernah terburu-buru lagi untuk kesekian kalinya. Ada yang bilang, aku adalah salah satu makhluk over-perception kadar besarrr. Terbukti, jatuh pada lubang dengan kasus yang sama untuk kelima kalinya bukan suatu keputusan yang cerdas, ya itu lah pemikiran makhluk over-perception. Hahaha.


Sekian, hanya sedikit mencurahkan.

Minggu, 17 Agustus 2014

Aku Rindu

Sudah berapa lama aku pergi? Sekitar tiga bulan ya. Bagaimana kabarmu? Semalam seseorang yang bahkan belum pernah aku temui mengingatkanku padamu. Tentang bagaimana aku meninggalkanmu dengan alasan yang murah, sangat-murah. Dia sangat mencuri perhatianku, membuatku mencoba mengulang ingatanku bersamamu. Lalu aku tersenyum asimetris dan mencibir diriku sendiri. Begitu bodohnya aku meninggalkan kamu yang sesungguhnya adalah bagian dari diriku. Dia tidak sekedar mencuri perhatianku, seakan-akan menyuruhku kembali padamu. Rasanya berat sekali hingga aku mencoba membagikan ini. Dia membuatku merasa bahwa aku dan kamu tidak akan terpisahkan oleh apapun. Aku ulangi. Apapun. Dia membuatmu menjadi sangat spesial untukku, lagi. Bukan berarti kamu pernah menjadi yang tidak spesial, namun selama ini kamu sedikit tersisihkan dengan aktifitas kampus yang ya, kalian pasti tahu, sibuk. Kuliah, organisasi, dan hobi baru yang sebenarnya sangat dekat denganmu. Entahlah, aku selalu beralasan untuk bercengkerama denganmu. Alah, bertemu atau hanya menatapmu saja aku malas. Siapa dia? Dia yang membuatku terus memikirkanmu, ingin kembali bersamamu, selalu dekat denganmu, dan mungkin hari ini adalah hari terakhir akan kesempatan itu. Siapa dia?

Kamu pasti ingat, ketika Hujan, kamu membuatku bertemu dengannya secara virtual. Dari situ aku mengenalnya, tidak banyak. Lalu pada Detik lain, dia kembali menemuiku dan membuatku lebih dekat dengannya. Kami berbincang-bincang sedikit tentang hal-hal sepertimu di Twitter. Itu membuatku merasa ada orang baru yang sangat mendukung aku dan kamu terus bersama dan aku sangat bahagia. Aku mencoba memanggilnya untuk mencampuri urusanku lagi pada Saturday Morning-ku bersamamu, namun dia tidak terlihat. Aku masih berharap bisa berbagi apapun dengannya, kamu termasuk dan menjadi hal nomor satu yang membuatku dan dia dekat. Aku sangat bahagia saat dia mau membantuku memperbaiki ucapanku yang ingin aku katakan padamu. Aku bahagia dia menjadi temanku, dan membuatku rindu padamu. Sangat rindu. Tidak akan seperti ini jika rinduku hanya biasa-biasa saja.

Kamu dan dia sepertinya bersekongkol agar aku kembali pada dunia yang lumayan lama kutinggalkan, ya kan? Tak apalah, aku bahagia. Tidak pernah kurasakan ini sebelumnya, sebahagia ini. Siapa yang tidak bahagia, seseorang yang pergi dari dunianya yang sebenarnya tidak mungkin ditinggalkan, dan bisa kembali karena satu hal yang biasanya disebut rindu.

Seperti aku merindukan laki-laki yang biasanya di rumah setiap pagi dan mengantarku sekolah.
Seperti aku merindukan laki-laki yang tidak jarang mengajakku berbincang-bincang dengan bahasa Arab dan aku adalah kesayangannya.
Seperti aku merindukan laki-laki yang tidak pernah tidak tersenyum padaku.
Seperti aku merindukan laki-laki yang mau menerimaku karena apa yang ada di dalam diriku.

Seperti itulah aku merindukanmu. Bedanya, empat laki-laki itu jelas sudah pergi dan tidak akan pernah kembali. Namun kamu akan tetap ada meskipun aku lengah dan pergi, kamu pasti hanya menungguku kembali. Lalu ketika aku terlalu bersemangat dengan dunia luar, kamu pasti hanya menugguku kembali. Bahkan ketika aku nanti melupakanmu, kamu pasti hanya menungguku kembali. But now, I’ll make sure that I will never leave you, again. Remind me of this.

Aku rindu.
Dan... aku kembali padamu.

Peluk hangatku, untuk kamu, dia, dan kalian para pembaca.

Jumat, 16 Mei 2014

Decision.

Dua sejoli itu terus menertawai kelucuan yang mereka buat. Sesekali menggenggam tangan satu sama lain, saling melempar senyum tanda sayang, mengelus pipi, apa saja yang masuk kategori mesra bagiku sudah mereka lakukan. Tentu ada batasnya, ini tempat umum, dan tidak semua yang duduk di ruangan ini sedang bermesraan layaknya mereka. Aku salah satunya, mungkin satu-satunya. Entahlah. Tunggu, tadi aku bilang mereka menertawai kelucuan? Lampau sekali pemikiranku. Itu bagiku saat seragam sekolah menengah atas masih melekat erat pada tubuhku. Ya, seperti yang mereka kenakan sekarang dan sebagian besar manusia di ruangan ini. Lalu aku di sini, sendiri, bertatap muka dengan segelas lemon tea yang dari tadi terus kuaduk. Tiga puluh dua menit. Menunggu memang membosankan.
Kembali kuamati remaja labil yang sedang bermesraan. Berpikirkah mereka tentang 10 tahun ke depan? Tetapkah pasangannya? Muluskah jalannya? Who knows? Anak kecil. Bukan karena duduk di sini sendiri tanpa pasangan seperti mereka, aku pernah berada pada posisi mereka, di sini pula. Lalu? Hap! Seseorang tiba-tiba duduk di depanku seperti maling yang lolos dari kejaran masa setelah menempuh jalan yang panjang. Terengah-engah dan penuh peluh.
“Maaf, sayang…”, kemudian dia meraih tangan kiriku yang lebih pengangguran ketimbang yang kanan.
Tiga puluh lima menit. Tidak bosankah pria ini terlambat. Sepuluh tahun berlalu. Aku kesal, rasanya ingin mengguyurkan lemon tea-ku ke wajahnya, namun matanya meruntuhkan amarahku. Tidak ada bedanya dengan sepuluh tahun lalu. Aku pun tersenyum pasrah, isyarat maaf untuknya.
“Kangen? Mau bicara apa?”, senyumnya.
Aku menatap tajam matanya. Meyakinkan batinku untuk mengatakan ini.
“Masih ingat tempat ini?”, aku sedikit gagap.
“Tentu, sayang. I met a girl with a beautiful smile here, the most beautiful girl.”, dia mengusap pipiku. Aku menunduk menyembunyikan mata yang mulai berair.
“Karena kita bertemu di sini, aku ingin perpisahan kita juga di sini.”, aku masih menunduk, berat sekali kepalaku.
“Pisah?”, aku mengangguk. “Nadia, pikirkan lagi! Tatap aku!”, aku tidak menatapnya sama sekali, namun nada suaranya menunjukkan kesedihan, dalam.
“Sudahlah, Gas. Ini nggak bisa diteruskan! Kamu kan yang bilang bahwa suatu hari nanti aku harus memilih, dan aku melakukannya sekarang.”, kutatap wajahnya yang sedang kecewa. Air mataku tak tertahan. Aku mencintainya, Tuhan.
“Lima tahun, Nadia. Bahkan aku berjanji pada diriku sendiri, apa arti pernikahan jika bukan kamu mempelaiku. Aku melakukannya.”
“Aku mencintai suamiku! Sebesar aku mencintaimu.”
“Lalu apa bedanya? Tinggalkan dia dan menikahlah denganku!”
“Nggak semudah itu, Bagas. Menikahlah, tapi bukan denganku.”, aku mencoba tetap tegar, menghapus air mata yang meluap, dan berhenti menangis.
“Nggak semudah itu, Nadia.”, kini dia yang menunduk. Aku menatap ke luar, menembus kaca, melihat suamiku baru saja tiba dan melambaikan tangannya dari dalam mobil. Aku tersenyum padanya.
“Aku berharap kita bertemu lebih lama tapi waktu yang seharusnya bisa kita manfaatkan lebih lama untuk pertemuan terakhir usai, Bagas. Aku tunggu undangan pernikahanmu.”, aku menyentuh lengannya dan pergi.
Aku hanya ingin meninggalkan dosa. Cinta, pasti datang seiring waktu yang terus berputar. Aku hanya ingin memilih yang benar. Selagi Tuhan memberikanku waktu untuk sadar, aku tidak tahu kapan Tuhan akan memberikannya lagi setelah hari ini. Tuhan memberikan kesempatan, membuka mataku untuk melihat lebih dalam, pria tangguh di sebelahku ini yang terbaik. Tidak ada dua terbaik. Hanya satu.

Senin, 14 April 2014

Senin, 31 Maret 2014

S(y)ukuri(n) !

Sekitar dua setengah jam lalu, kereta api ekonomi yang seharusnya mengantarkan saya kembali ke perantauan datang beberapa menit sebelum saya. Alhasil, pasti, saya ditinggal begitu saja. Bahkan petugas tiket saya tangisi, berhubung saya menyadari kalau saya tak lagi anak-anak, saya mencoba mencari tempat duduk dan menenangkan diri. Saya masih belum punya pikiran untuk ikhlas.

Sesaat kemudian saya mencoba bangkit dan mengantre tiket untuk esok pagi. Laa ilaahaillaallaaah, habis! Saya kembali duduk dan menenangkan diri, lagi. Kemudian saya menangis sedikit-sedikit, sembunyi-sembunyi tentunya, dan memutuskan untuk kembali pulang dan merencanakan kembali ke perantauan dengan bus esok subuh.

Semilir angin teman perjalanan pulang mengingatkan saya pada mimpi semalam, tentang saya yang mengejar mobil paman, namun tak sampai. Kemudian, tentang pertanyaan ibu yang mengharapkan saya kembali ke Surabaya hari Selasa. Ya, bu, firasatmu luar biasa!

Di antara suara hati yang mengaum, saya mencoba untuk condong ke manfaatnya. Itung-itung 5500 perak tiket kereta api yang tak terpakai itu adalah biaya ngekos semalam lagi di rumah sendiri. Lagi pula tiga hari ini saya belum sempat mencicipi beras kencur eyang putri.

Sejujurnya, hati ini belum bisa menerima kenyataan. Saya sempatkan Beat putih yang saya namai Jacob nangkring di tempat parkir Indomaret dan menunggu saya keluar membawa dua kerucut es krim Cornetto edisi Taylor Swift, idola saya. Allahu Akbar, kode unik yang saya nanti-nantikan kemunculannya di beberapa bungkus Cornetto akhirnya muncul sekaligus di 2 bungkus kerucut Cornetto yang baru saya beli! Kemudian saya berpikir, kalau saja tadi saya tidak terlambat menjemput kereta, pasti poin saya tetap segitu-gitu saja (baca:dua). Hahaha.

Muncul lah beberapa rencana baru untuk menghabiskan beberapa jam di kampung halaman sebelum esok kembali ke perantauan. Melanjutkan skrip film, menyunting tulisan-tulisan kacau, kuliner nasi goreng, dan jamu gratis eyang putri. Subhanallah, saya syukuri gundahnya terpontang-panting keadaan sore ini. Alhamdulillah, subhanallah :)



Tinggal pilih, syukuri? Atau, sukurin? :)

Sabtu, 20 Juli 2013

Untold Story

Kapan kita bisa seperti ini lagi di kemudian hari? Aku sudah berencana merindukanmu dan semua ini. Kenapa zona nyaman kita baru terasa beberapa bulan terakhir? Tuhan adil? Belum berpisah saja aku sudah sering membayangkanmu di tiap lamunku. Kamu pergi sebentar saja, rasanya ingin merapal salah satu mantra Harry Potter-film favorit kita, "Accio!". Entah kamu yang akan kembali atau aku yang menghampiri. Sepertinya aku mulai mencintaimu, setelah bertahun-tahun kita kenal, sayangnya tidak saling mengenal. Kita sama-sama beranjak dewasa, mungkin itu yang mematangkan hati kita untuk saling mengenal, saling membutuhkan, dan saling mencintai. Selamanya deh.

Aku ingat, ketika kita menonton salah satu film Will Smith. Aku terus menanyaimu, apa tidak ada makhluk lain selain Will dan anjingnya? Kenapa kota itu bisa kosong? Aneh, nggak masuk akal, tapi gimana sih maksudnya? Kemudian kamu menatapku dalam, aku juga belum paham! Lalu kita tertawa, tidak peduli siapa kanan-kiri kita di tempat yang gelap dan luas itu. Yang kita lakukan hanya makan sambil melihat layar di depan. Hanya melihat layar, bukan menonton filmnya. Setelah keluar, kita bertengkar dan pulang sendiri-sendiri.

Itu beberapa tahun lalu, kenangan agak manis yang sejauh ini bisa kuingat. Tentunya sebelum zona 'sangat' nyaman ini. Aku ingat lagi, betapa ibuku hanya mengizinkanku pergi bersama satu pria saja, yaitu kamu. Kemana-mana harus bersamamu. Jelas, membosankan sekali. Tapi sekarang aku menyimpulkan, aku bosan karena kita saling diam dan jarang tertawa. Seperti sampai hari ini, tiada hari tanpa tertawa bersamamu. Apa saja bisa jadi adonan untuk kita makan kelucuan-kelucuan yang terselubung. Seperti menertawakan nada pujian (lantunan setelah adzan) mushola dekat rumah yang kita anggap lucu, karena selalu ada cengkok aneh di akhir baris. Atau, saat kita kebetulan menonton Sule di TV, apa yang dia lakukan selalu kita anggap lucu dan menciptakan tawa. Kita gila, kita gilaaa! Hahaha.

Kadang aku menangis sendiri di kamarku, menyadari kita harus berpisah. Aku harus pergi melakukan kewajibanku yang lain, yang tidak bisa kulakukan jika kamu ada di sampingku. Kamu tidak marah, kan? Semarah apapun kamu, aku harus tetap pergi. Tidak lama sebenarnya, tapi aku yakin kita akan saling merindukan. Aku sama sekali tidak berpikir bagaimana aku nanti bisa tertawa jika bukan bersamamu? Bagaimana aku pergi kemana-mana jika tidak bersamamu? Bagaimana aku makan rakus jika tidak makan makananmu? Dan akan muncul bagaimana-bagaimana yang lain, nanti.

Sekitar satu setengah bulan lagi, aku pergi. Tidak jauh dan tidak terlalu lama. Aku akan selalu berdoa yang terbaik buatmu, selalu. Mungkin aku harus menemuimu sebulan atau dua bulan sekali. Mungkin, itu jadi keharusanku, kan? Aku hanya takut. Aku takut melupakanmu, melupakan kita. Aku takut.

Deep sigh...

Adikku,










Aku menyesal telah membuang sangat banyak waktu kita untuk bertikai. Saling membenci. Saling melukai. Saling mementingkan keegoisan masing-masing. Berapa waktu kita untuk itu? Sejak bapak pergi dan kamu mulai nakal di usiamu yang masih satu setengah tahun. Sejak itu aku membenci kehadiranmu di setiap adaku. Lalu, berapa waktu kita untuk tertawa bersama? Bercanda tanpa tahu malu di tengah antrean kebab, menertawakan kespontanan orang-orang di sekitar yang 'kita anggap' lucu. Aku bisa menghitungnya dengan jariku. Aku bersyukur hitungan ini bukan per hari, di atas itu, di atasnya lagi.

Sudah aku bilang, satu setengah bulan lagi aku harus pergi untuk waktu yang terbilang lama. Aku akan jarang melihatmu bergerak, begitupun kamu. Aku harap kita bisa memanfaatkan waktu singkat itu untuk tertawa bersama..











Marisa
Untold Story, because I wrote it!

Senin, 06 Mei 2013

Saturday Morning :)


When I see your face, there's not a thing that I would change
Cause boy you're amazing, just the way you are...

First sight, beberapa bulan lalu, aku jatuh cinta banget sama matanya. His eyes, his eyes, make the stars look like they're not shining... Cuma itu doang. Lama-lama jatuh cinta sama orangnya :) Apa banget gitu, bisa suka sama dia. Bener-bener nggak nyangka x) Betapa dia udah aku bahas ya di artikel curcol sebelumnya. So, goes it on...

Kamis, 2 Mei 2013, sekolah aku lagi prom kan. Nah, kebetulan aku bawain Love Story-nya Taylor Swift di awal acara, nggak awal-awal banget sih. Apa yang unik? Ini... Setiap ada kata "You", aku selalu nengok bahkan nunjuk tempat dia duduk. Biasa? Oke, lanjut. Inget reff setelah brigde? Yang ini:
Romeo take me, I've been feeling so alone
I keep waiting for you but you never come
If this in my head I don't know what to think
He nelt to the ground and pulled on a ring, and said...

Marry me, Juliette. You never have to be alone
I LOVE YOU, AND THAT'S ALL I REALLY KNOW
stop!

Nah, lirik yang kebagian caps lock jebol itu!! Meskipun makna di lagu itu seakan-akan yang bilang Romeo, beda kalo aku. Pas lirik itu, aku memberanikan diri pake bahasa isyarat, nunjuk dan ngliat dia! Shock, temen-temen semejaku yang tempatnya dua meja di depan meja dia bilang "Gila, ini anak serius berani banget!" Kebanggaan sih, meskipun cuma tersirat :) Entahlah dia tau apa nggak, yang penting itu buat dia. Cuma dia :)

Trus, ada apa di Sabtu pagi?
4 Mei 2013, partner acoustic group-ku ultah. Nyusun rencananya di rumah personil lain yang lumayan jauh sama TKP. Iseng sih, lewat tempat nongkrong Romeo-ku (halah--"), yang dulunya, sebelum dia suka nongkrong di situ, jadi basecamp-ku. Demiapa-demiapa-demiapa-demiapa nih, ada dia di depan x) Awalnya yang keliatan cuma yang punya tempat sama 2 anaknya, dianya nggak keliatan. Pas udah deket, yang punya tempat manggil aku, dia nengok, niat daa-daa sama yang punya tempat sih sebelumnya, tau dia nengok pake senyum ke aku, jadi daa-daa ke dia. Sampe nggak bales sapaan yang punya tempat. Wah, berasa nge-freeze, trus bunga-bunga yang harum jatuh pelan-pelan, slow motion bangeeet pas itu x) Belum jauh dari situ, aku udah teriak-teriak nggak jelas xD Sampe parkir di rumah temenku, bahkan sampe di dalem rumah, belum sembuh juga senengnya xD Seneeenggg banget!!! Aseli fix demi apapun!!!

Sebelumnya cuma bisa liat senyumnya dari jauh. Sekarang ngliat senyumnya dia yang buat aku x) Melting luar biasaaa... It feels like that time was the best time I breathe. Every time I see his smile, I'm falling in love over and over again. Impossible but that's true! For real I see him smiling at me. Until I smile like an idiot when I see that.
You have to know that I see a sunshine when you smile, Romeo :) Show that sweet smile everyday for your life, everyone must be have a smile like yours. I can't stop thinking about that smile, your smile :)
I miss you :)

 

Rabu, 03 April 2013

Detik (tik tok tik tok)


It's Wednesday. Third day on April. It's mean, how long can we keep this up? up? up? ehh ( ._.) ...

15 April, perang hari pertama.
Gimana persiapannya? Sementara latihan-latihan perang sebelumnya bisa dibilang gagal. Nggak kalah sih, tapi jauh dari menang! Siang ini saya sama temen-temen seangkatan training motivasi dari seorang dokter sekaligus da'i, penulis, dosen, motivator, dan ayah yang sayang banget sama keluarga. Alami banget, setiap kata motivasi yang keluar dari mulut beliau itu semacam officially bahasa beliau sehari-hari, nggak dibuat-buat. Berapa kali saya dibikin nangis-ketawa-nangis ketawa. Haha, luar biasa :)

Biasa, setiap acara kolosal seangkatan, saya selalu duduk berlima bareng sahabat-sahabat luar biasa, seluar biasa persiapan Ujian Nasional. Luar biasa belum siap :') *skip*

Ehem, waktu bergulir semakin cepat, secepat itu hari menuju medan perang, secepat itu pula, bahkan mungkin lebih cepat, rasa kagum terus bertambah. Seseorang yang nickname-nya saya sebutin di atas. Chunky :) Sebenernya saya mau cerita ini, curcol maksudnya. Bahkan saya nggak tau ini namanya apa. Semakin saya menyuruh otak saya tidak memikirkan dia, semakin bandel aja si otak, ngajak hati lagi. Mau bully saya apa ya kalian ini?
Betapa semakin hari saya semakin dibikin kagum sama si Chunky. Apa yang dia lakukan? Nothing. Nggak ada, sama sekali nggak ada. Kayak angin, berhembusss. Udah gitu aja. Saya aja nggak tau gimana saya bisa mulai kagum sama dia. Saya bahkan bingung, kok bisaaa... Dasarnya nggak kenal. Bisa dibilang "falling in love with stranger". Awalnya saya pikir ini sementara, nggak nyangka, saya jadi secret admirer udah hampir empat bulan :') Saya sampe bikin "Being Your Beloved Secret Admirer's Anniversary", 13 Desember 2012, duabelas hari sebelum saya berangkat liburan ke Borneo selama dua minggu. Dan saya mendalami perasaan itu di sana, Borneo. Bayangkan, saya bisa mengagumi seseorang ketika saya sangat jauh dari kota saya, tapi saya mengagumi seseorang dari kota sendiri. God... Saya sempet berusaha naksir mahasiswa Borneo, tapi yang saya ingat ya cuma si Chunky.
Kalo inget Chunky, di mana pun saya berada, yang ada di pikiran saya itu, pertama "Kok bisa ya?" Paten! Pasti! Baru deh yang lainnya, macem-macem. Nah, kenapa tiba-tiba si Jomblowati dua tahun ini tiba-tiba cerita beginian? Karena saya bangga bisa mengaguminya, sedikit demi sedikit mengenal dia. Masih keinget banget kata-kata di salah satu film Thailand favorit saya, Crazy Little Thing Called Lovepas Si Nam udah sukses jadi designer terkenal di USA dan ditanya wartawan alasannya bisa berubah modis dari penampilan masa lalunya yang dia sama sekali nggak bisa dandan, cupu, jelek, hitam, dan sebagainya, bahkan sampe menginspirasi orang lain dari design-design yang dibuatnya. Apa jawabnya coba? "Karena saya jatuh cinta pada seseorang, meskipun sad ending, dia menginspirasi saya untuk memakai perasaan ini pada jalan yang benar. Sampai, saya jadi seperti sekarang ini." Gitu jawab Si Nam. Trus apa hubungannya sama saya? Nah, Chunky adalah inspirasi saya :) Salah satunya, dia itu bikin saya semangat belajar, meskipun dia nggak ngapa-ngapain saya. Intinya, saya bangga bisa punya perasaan ini buat seseorang yang menurut saya tepat. Saya nggak peduli ending-nya gimana, saya nggak berharap ada ending. Biarkan saya jadi secret admirer-nya sampe nggak tau kapan...
Thanks a lot, Chunky :)

Kamis, 28 Februari 2013

(Nemu) Puisi 4 Tahun Lalu *4*


pikirkan aku
pandang semu kedua mataku
baca apa yang tersirat dalamnya
kehirauanmu telah terusik bodoh cintanya

lihatlah hatiku
yang sakit karenamu
dengan tenang kau melupakan tanggung jawabmu
sembuhkan aku!
sembuhkan dari luka goresan penghianatanmu

bibirku kering menyadarkanmu dari mimpimu yang tak kunjung usai
hatiku tlah jadi debu gersangnya padang luas hatimu

dengarkan aku!
aku yang dulu kau puja
yang kau cinta
kini kau tumpahkan aku pada masa lalu
bakar bayanganku dari fikirmu
semudah itukah kau melupakanku?
tak ingatkah ucap rindumu dulu?
tak ingatkah cinta telah menyatukan kita?

dengarkan jerit sepiku
temani langkahku
tanyakan keadaanku

(Nemu) Puisi 4 Tahun Lalu *3*


dalam hening gelapku
yang hanya berteman cahaya bulan
nampak dirimu

di atas selembar kertas putih bersih
tercorak namamu

dalam kerapuhan batinku
yang telah kau bisukan
tersirat kalimatmu

pada hati yang tak ingin kepergianmu
yang selalu ingin berteman dirimu
yang ingin setiap detik bertemu

setiap fajar bangkit dari mimpinya
hembusan angin syahdu meniup sekujur ragaku
kapas bersih yang lepas dari persemayamannya
berterbangan menghampiri mimpiku semalam
membacanya, menerawangnya
hingga kapas itu terbang dalam tenangnya
membisikan seucap pesan untukmu...

(Nemu) Puisi 4 Tahun Lalu *2*


mata yang mulai lelah
menatap selembar wajah yang tergenggam
bola hitam tetap tak bisa beralih
sayu memandang senyum manis itu
keceriaannya menghangatkan suasana hati

dia lelakiku
yang telah lama lari dariku
kuingin bersua
canda, tawa, dalam sepetak meja
pandangannya menyentuh batin nuraniku
sedangkan aku hanya tersipu malu

BUYAR!!!

itu hanya kisah dalam mimpi tidur sekilasku
kembali kupandang wajah kocaknya, hangat
membuatku tak bisa bermimpi malam ini
selalu terbayang, dia

(Nemu) Puisi 4 Tahun Lalu *1*


Hari ini kau berbeda
Dari rautmu kulihat muncul rasa jenuh terhadapku
Tatapanmu tak lagi tertuju padaku
Menoleh ke belakang
Ketika kutahu,
gadis itu yang selama ini kau pandang
Hingga kau melapaskan genggamanku atas tanganku yang lemas tak berdaya
Berlari sekencangnya
Tanpa seucap salam perpisahan dari bibirmu yang pernah mengecup keningku dalam maya
Membiarkanku sendiri,
mematung dalam naung kakiku di atas rerumputan yang layu memandang sedihku
Apa aku harus menyesal telah mencintai sosokmu yang telah hidup dalam jiwa ragaku?
Itu sungguh munafik!!!
Tapi tragedi yang sempat membuatku rapuh sudah berakhir...

Dan aku merasakan penyesalan itu...

Rabu, 27 Februari 2013

Cinta itu, Kamu


Cinta itu, Kamu
Aku mau jadi angin
Ada tanpa diminta
Ada tanpa bicara

Cinta itu, Kamu
Aku hanya angin
Untuk nafasmu, untuk Kamu

Cinta itu, Kamu
Tanpa alasan
Cuma kamu, Kamu

Cinta itu, Kamu
Cinta itu, Kamu
Cinta itu, Kamu

Sabtu, 15 Desember 2012

Jangan Tanyakan Posisi


“Di atas itu nggak selamanya bahagia, di bawah itu nggak mesti duka. Mungkin justru berada di antaranya kita akan ketemu sama yang namanya sederhana.”

Banyak banget bukti-bukti dari praktek tindakan di atas, berusaha ada di antara atas dan bawah juga jadi pribadi yang sederhana. Tapi sayang, beda banget sama yang aku rasakan. Tiga posisi itu nggak ada bagus-bagusnya buat aku. Mungkin, kata “galau” ada karena perasaan nyaman nggak didapetin pas ada di tengah. Ketika kita memilih menjadi The Middle di antara atas dan bawah tapi yang kita dapetin bukan sederhana, mau apa? Bingung kan. Bahkan The Middle adalah posisi terburuk, menurutku. Kenapa aku bisa bilang demikian? Kebetulan aku pernah mengalami tiga posisi ini di waktu yang mungkin nggak enak banget.

Di atas,
Aku suka banget nyanyi. Kebetulan beberapa tahun yang lalu sempet punya band. Gimana nggak bahagia, aku nggak pernah punya kenalan anak band, paling cuma beberapa pemain gitar amatir yang sering akustikan nggak jelas. Eits, ternyata anak band itu terlahir dari ‘pemain gitar amatir yang sering akustikan nggak jelas’. Entah ada angin apa, mereka yang udah terbentuk dan udah punya nama ngajak aku gabung sama mereka buat ngisi kekosongan di bagian depan, vokalis. Sumpah, saat itu aku berasa keren, berasa jadi orang paling beruntung di antara orang-orang yang pengen tapi nggak bisa.
Setelah terbuai cukup lama, aku sadar tentang sesuatu. Posisi itu nggak abadi. Debat adalah snack yang paling sering kami bawa setiap ke studio. Keputusan terakhir dari perdebatan nggak menjamin semua personil setuju, satu atau dua orang pasti nggak match. Sampai akhirnya memutuskan untuk vakum dan kebablasan juga, sampai nggak berbau.
Nggak cuma itu, pandangan orang tentang aku before after udah beda. Dan itu nggak enak.
Nggak enak…
Itu salah satu contoh nggak enaknya jadi orang ‘di atas’ setelah membaur dengan kenyataan.

Di bawah,
Aku tipe orang yang nggak terlalu suka ‘ngoyo’. Sifat jelek sih kalau dibawa sekolah. Kayak misal aku nggak bisa rumus A, aku coba tetep nggak bisa, akhirnya aku nyerah. Sampai ketemu ujian, nilai-nilaiku sama sekali nggak memuaskan, bodohnya lagi aku nggak introspeksi. Sampai ketemu pembagian raport, dan rankingku di bawah banget. Aku nangis, nangis karena nyesel. Tapi ya cuma di saat itu aja.
Mungkin orang-orang di sekitarku pada risih kali ya ngliat aku nggak ada usaha sama sekali buat maju, sampai akhirnya pada menjauh dan aku merasa dibutuhkan di saat-saat yang nggak terlalu penting.
Setelah aku bener-bener punya niat berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik, kesempatan itu udah hangus. Nggak banyak yang bisa nerima perubahanku.
Nggak cuma itu, pandangan orang tentang aku before after udah beda. Dan itu nggak enak.
Nggak enak…
Itu salah satu contoh nggak enaknya jadi orang ‘di bawah’ setelah membaur dengan kenyataan.

Di tengah,
Bayangin aja, ada di antara seorang temen yang tiba-tiba jadi artis mendadak di mana kita juga lagi pengen banget di posisi itu dan temen yang sama sekali nggak ada usaha buat maju di mana kita lagi usaha sekuat tenaga demi mencapai hal yang sama lalu dia hanya mengandalkan sesuatu yang nggak baik.
Dan itu nggak enak.
Nggak enak…
Itu salah satu contoh nggak enaknya jadi orang ‘di tengah’ setelah membaur dengan kenyataan.
Sederhana itu nggak segampang bayangan. Ternyata. Kita justru tersiksa hidup di antara atas dan bawah. Biasanya hal ini yang bikin seseorang pengen menyindiri dalam jangka waktu yang lumayan lama. Tapi lihat aja, sampai kapan mereka mau menyendiri? Selamanya?
Bagaimanapun juga kita semua adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain. Dan bahasan di atas bisa diartikan,
“Kehidupan bukan untuk memilih posisi di atas, di bawah, ataupun di tengah. Tapi bagaimana kita bisa sangat pandai menjadi makhluk sosial yang berguna bagi SIAPA SAJA.”


-marisadews-
(parable)